TROL, Sumenep – Sebuah temuan mengejutkan terjadi di perairan barat daya Pulau Masalembu, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Temuan itu Sebanyak 35 kilogram yang diduga narkotika jenis sabu diamankan oleh warga nelayan, dengan bantuan dua anggota Babinsa yang sigap bertindak.
Langkah cepat aparat TNI ini mendapat apresiasi dari Ketua Umum LSM Barisan Investigasi dan Informasi Keadilan (BIDIK), Didik Haryanto.

Didik menilai keterlibatan Babinsa dalam pengamanan barang mencurigakan tersebut sebagai bentuk nyata pengabdian dan dedikasi TNI dalam menjaga keamanan, khususnya di wilayah kepulauan yang rawan penyelundupan.
“Jika sabu ini jatuh ke tangan yang salah, maka dampaknya akan sangat merusak masa depan generasi bangsa,” ujarnya, Jumat (30/5).
“Langkah cepat kedua Babinsa tersebut telah menyelamatkan masyarakat, bukan hanya dari bahaya narkoba, tapi juga dari ancaman kerusakan moral dan sosial.” kata Didij ketua LSM BIDIK, yang seoaligus menjabat sebagai Ketua DPD Gibran Center Kabupaten Sumenep.
Ia menegaskan pentingnya memperkuat peran TNI di lapangan, terutama di kawasan pesisir dan kepulauan seperti Masalembu yang menjadi salah satu titik rawan jalur penyelundupan laut.
Penemuan Berawal dari Drum Terapung Kronologi kejadian bermula pada Rabu (28/5), ketika empat nelayan dari Dusun Ambulung, Desa Sukajeruk, Kecamatan Masalembu masing-masing Sirat (60), Naim (30), Fadil (25), dan Mastur (40) menemukan drum besi terapung sekitar 4 mil dari garis pantai.
Drum tersebut kemudian dibawa ke darat dan disimpan. Keesokan harinya, salah satu nelayan membuka drum tersebut dan menemukan 35 paket plastik yang diduga berisi sabu dalam kondisi utuh. Penemuan ini langsung dilaporkan ke Koramil 0827/22 Masalembu dan diteruskan ke Polsek Masalembu.
Kapolsek Masalembu, Ipda Asnan, membenarkan bahwa pihaknya bersama personel TNI segera mengamankan lokasi serta barang bukti. “Kami ambil tindakan cepat agar barang bukti tetap utuh dan bisa segera diperiksa lebih lanjut di Polres Sumenep,” jelasnya.
Peringatan Serius bagi Semua PihakPenemuan ini membuka mata banyak pihak tentang masih rentannya pengawasan di jalur laut, khususnya di kawasan terpencil.
Menurut Didik, 35 kilogram sabu bukan jumlah kecil, dan bila jatuh ke tangan jaringan narkoba, bisa merusak ribuan anak bangsa.
“Ini alarm serius bagi semua pihak. Harus ada sinergitas lebih kuat antara masyarakat, pemerintah, dan aparat penegak hukum,” tegas Didik.
Ia juga mendorong adanya edukasi bahaya narkoba di desa-desa pesisir serta peningkatan patroli laut di titik-titik rawan penyelundupan.
“Babinsa yang bergerak cepat ini bukan hanya mengamankan barang bukti, tapi juga telah menyelamatkan masa depan generasi bangsa. Ini patut dijadikan contoh secara nasional,” pungkasnya.
(hartono)











