Antisipasi Risiko Kebakaran, RSUD dr. Iskak Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana

TROL, Tulungagung – Pasca insiden kebakaran di RSUD Dr. Soetomo yang memicu perhatian publik terhadap sistem keselamatan rumah sakit, manajemen RSUD dr. Iskak memastikan seluruh sistem proteksi kebakaran di lingkungan rumah sakit dalam kondisi aktif, terawat, dan siap digunakan saat keadaan darurat.

Sebagai rumah sakit rujukan regional, RSUD dr. Iskak menilai kesiapsiagaan bencana menjadi bagian penting dalam menjaga mutu pelayanan kesehatan, baik bagi pasien, pengunjung, maupun tenaga kesehatan.

Direktur RSUD dr. Iskak, Dr Zuhrotul Aini, mengatakan rumah sakit memiliki peran vital dalam penanganan korban saat situasi darurat sehingga operasional pelayanan harus tetap berjalan dalam kondisi apa pun.

“Rumah sakit adalah garda terdepan dalam penyelamatan korban saat keadaan darurat. Karena itu seluruh sistem keselamatan harus benar-benar siap dan dapat berfungsi optimal kapan saja dibutuhkan,” tuturnya saat Workshop Manajemen Bencana dan Pemutakhiran Hospital Disaster Plan (HDP), Selasa (12/5).

Ia menegaskan kesiapsiagaan rumah sakit tidak hanya bertumpu pada kelengkapan alat kesehatan, tetapi juga sistem koordinasi dan kecepatan respons seluruh sumber daya manusia di lingkungan rumah sakit.

“Kesiapsiagaan tidak hanya bertumpu pada kecanggihan alat kesehatan, tetapi juga sistem komando yang terstruktur, koordinasi lintas unit yang solid, serta kecepatan respons seluruh SDM,” katanya.

Kegiatan yang digelar di Auditorium Gedung IDIK Lantai 2 itu menghadirkan narasumber dari Forum Pengurangan Risiko Bencana BPBD Jawa Timur guna memperkuat sistem kesiapsiagaan rumah sakit menghadapi berbagai potensi bencana seperti gempa bumi, banjir, hingga kebakaran.

Manajemen rumah sakit menjelaskan sistem penanggulangan kebakaran di RSUD dr. Iskak menggunakan proteksi berlapis dan tidak hanya mengandalkan hydrant. Fasilitas tersebut meliputi smoke detector, heat detector, fire alarm, APAR, sprinkler, hingga hydrant yang tersebar di sejumlah titik strategis.

Seluruh perangkat proteksi disebut rutin menjalani pengawasan dan pengujian berkala sesuai standar keselamatan kebakaran. Rumah sakit juga memiliki pilar hydrant untuk suplai air luar gedung serta Siamese Connection yang berfungsi sebagai jalur distribusi air bagi petugas pemadam kebakaran.

Saat ini terdapat enam titik hydrant aktif di lingkungan rumah sakit. Pengelolaannya mengacu pada standar NFPA 25 (National Fire Protection Association) dan Peraturan PUPR Nomor 26 Tahun 2008 tentang persyaratan teknis sistem proteksi kebakaran pada bangunan gedung dan lingkungan.

Pihak rumah sakit menyebut inspeksi visual hydrant dilakukan setiap bulan, sementara pengujian tekanan air dilaksanakan setahun sekali. Pengujian terakhir dilakukan Juli 2025 oleh tim internal K3RS dan pengujian eksternal oleh tim ahli PJK3 dijadwalkan berlangsung pada Juli 2026.

Selain memperkuat sarana proteksi, RSUD dr. Iskak juga menyiagakan ratusan APAR di berbagai area pelayanan seperti ruang rawat inap, IGD, poliklinik, apotek, ruang penunjang medis, hingga area perkantoran.

Pengecekan APAR dilakukan rutin setiap bulan meliputi kondisi nozzle, tekanan gas, pin pengaman, hingga masa kedaluwarsa media pemadam.

Dari sisi sumber daya manusia, rumah sakit juga rutin menggelar sosialisasi penggunaan APAR dan prosedur tanggap darurat dua kali dalam sepekan melalui apel pagi serta edukasi keselamatan kerja di seluruh unit pelayanan.

Pelatihan penanggulangan kebakaran turut melibatkan BPBD Kabupaten Tulungagung dengan simulasi penanganan kondisi darurat secara langsung.

Kepala Pelaksana BPBD Tulungagung, Sudarmaji, menekankan pentingnya membangun budaya sadar bencana di lingkungan kerja serta memperkuat koordinasi lintas sektor dalam menghadapi situasi darurat.

“Budaya sadar bencana harus dibangun terus menerus. Kesiapan menghadapi kondisi darurat tidak bisa dilakukan secara parsial, tetapi membutuhkan koordinasi seluruh sektor,” ujarnya.

Menurut manajemen rumah sakit, hydrant merupakan lapis perlindungan terakhir ketika api sudah membesar. Karena itu, penanganan awal lebih difokuskan pada sistem deteksi dini dan pemadaman cepat agar kebakaran tidak berkembang menjadi situasi besar.

Melalui monitoring, evaluasi, maintenance berkala, serta penguatan manajemen risiko sesuai regulasi Kementerian Kesehatan Nomor 66 Tahun 2016, RSUD dr. Iskak menegaskan komitmennya menjaga keselamatan pasien, pengunjung, dan tenaga kesehatan dari risiko kebakaran maupun bencana lainnya.

“Keselamatan pasien bukan sekadar slogan, tetapi menjadi prioritas utama dalam seluruh sistem pelayanan rumah sakit,” tegas manajemen RSUD dr. Iskak.

Di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap keselamatan fasilitas kesehatan, kesiapan simulasi darurat dan efektivitas sistem proteksi kebakaran dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap layanan rumah sakit. (jk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *