TROL, Tulungagung – Jembatan Plengkung merupakan salah satu bangunan bersejarah yang menjadi ikon Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Terletak di Desa Mangunsari, Kecamatan Kedungwaru, jembatan ini membentang di atas Sungai Ngrowo dan hingga kini masih digunakan oleh masyarakat. Keunikan bentuknya yang melengkung di bagian atas membuat jembatan ini dikenal dengan sebutan “Plengkung”, yang dalam bahasa Jawa berarti melengkung.
Di tengah padatnya lalu lintas dan perkembangan kota Tulungagung, Jembatan Plengkung sering kali dipandang hanya sebagai jalur penyeberangan biasa. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, jembatan ini menyimpan nilai sejarah dan budaya yang jauh lebih penting daripada sekadar fungsi transportasi. Jembatan Plengkung adalah simbol ingatan kolektif masyarakat Tulungagung yang perlahan mulai terpinggirkan oleh modernisasi.
Peninggalan Masa Kolonial Belanda
Jembatan Plengkung diperkirakan dibangun pada masa penjajahan Belanda sekitar tahun 1920-an. Pada masa itu, Tulungagung berkembang sebagai pusat perdagangan dan pemerintahan, sehingga diperlukan infrastruktur yang kuat untuk mendukung mobilitas barang dan penduduk. Jembatan ini menjadi jalur penting yang menghubungkan kawasan kota dengan wilayah sekitarnya.
Konstruksi jembatan yang kokoh dan tahan lama menunjukkan keahlian teknik bangunan pada masa kolonial. Meski telah berusia hampir satu abad, Jembatan Plengkung tetap berdiri tegak dan masih berfungsi hingga sekarang.
Legenda Kyai Abdul Fatah
Selain nilai sejarahnya, Jembatan Plengkung juga lekat dengan cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, sebelum jembatan dibangun, penjajah Belanda mengadakan sebuah sayembara. Barang siapa mampu melompati Sungai Ngrowo yang lebar, maka jembatan akan dibangun di lokasi tersebut.
Banyak orang mencoba namun gagal. Hingga akhirnya seorang tokoh agama setempat bernama Kyai Abdul Fatah maju dan berhasil melompati sungai tersebut. Peristiwa ini dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa dan sarat dengan nilai spiritual. Setelah jembatan selesai dibangun, Kyai Abdul Fatah dikisahkan memanjatkan doa agar jembatan tersebut selalu kokoh dan membawa manfaat bagi masyarakat.
Nama Kyai Abdul Fatah pun dikenang dan menjadi bagian dari sejarah lisan masyarakat sekitar.
Kisah Jembatan yang Tak Tergoyahkan
Legenda Jembatan Plengkung semakin kuat ketika muncul cerita bahwa jembatan ini pernah hendak dihancurkan pada masa peralihan kekuasaan dari Belanda ke Jepang. Dikisahkan bahwa bahan peledak telah dipasang, namun jembatan tersebut tetap berdiri dan tidak runtuh. Masyarakat percaya bahwa kekokohan jembatan ini bukan hanya karena konstruksinya, tetapi juga karena doa dan keberkahan dari Kyai Abdul Fatah.
Walaupun kebenaran kisah ini sulit dibuktikan secara historis, cerita tersebut tetap hidup dan menjadi bagian dari identitas budaya Tulungagung.
Nilai Sejarah dan Budaya
Hingga kini, Jembatan Plengkung tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi, tetapi juga sebagai simbol sejarah dan kebanggaan masyarakat Tulungagung. Jembatan ini sering dijadikan latar foto, objek cerita sejarah lokal, serta pengingat akan perjalanan panjang daerah tersebut dari masa kolonial hingga masa kini.
Perpaduan antara fakta sejarah dan legenda menjadikan Jembatan Plengkung lebih dari sekadar bangunan fisik. Ia adalah saksi bisu perjalanan waktu, kepercayaan masyarakat, serta warisan budaya yang patut dijaga dan dilestarikan.
Jembatan Plengkung layak mendapat perhatian lebih dari pemerintah daerah dan masyarakat. Upaya penetapan sebagai cagar budaya, pemasangan papan informasi sejarah, serta pengelolaan kawasan sekitarnya dapat menjadi langkah awal untuk menjaga eksistensinya. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya melintas di atas jembatan, tetapi juga memahami cerita yang mengiringinya.
Pada akhirnya, Jembatan Plengkung bukan sekadar beton dan besi. Ia adalah saksi perjalanan Tulungagung, penghubung masa lalu dan masa kini. Jika kita kehilangan jembatan ini, baik secara fisik maupun makna maka kita juga kehilangan sebagian dari jati diri daerah kita sendiri. (*)
#dari berbagai sumber











