Budaya  

Festival Literasi Magetan Padukan Budaya dan Literasi Lewat Pagelaran Wayang

TROL, Magetan – Literasi tidak melulu soal membaca buku. Di Kabupaten Magetan, literasi dikemas lebih dekat dengan budaya masyarakat melalui pagelaran wayang dalam rangkaian Festival Literasi dan Hari Kunjung Perpustakaan Tahun 2026.

Mengusung tema “Literasi Bergerak, Magetan Nyaman, Maju dan Berkelanjutan”, festival tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan pengetahuan, budaya, dan kreativitas generasi muda.

Wakil Bupati Magetan, Kang Suyat, saat menyampaikan sambutan Bupati Magetan pada Kamis (10/9), mengatakan penguatan budaya literasi harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga dan melestarikan kebudayaan daerah.

Menurutnya, literasi bukan sekadar kemampuan membaca, tetapi proses mengolah pengetahuan menjadi pemahaman, tindakan, dan sesuatu yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Budaya dan literasi bukanlah dua hal yang terpisah. Keduanya dapat berjalan bersama. Budaya memberikan nilai dan jati diri, sedangkan literasi memberikan pengetahuan dan kemampuan untuk mengembangkan diri,” ungkap Kang Suyat.

Pesan tersebut salah satunya diwujudkan melalui pagelaran wayang dengan lakon “Srikandi Krido”. Menariknya, pertunjukan tersebut menghadirkan dalang perempuan, Amanda Mutiara Kusuma Dewi, mahasiswi ISI Surakarta.

Kang Suyat menilai wayang memiliki posisi penting sebagai media penyampaian nilai. Di balik pertunjukannya, wayang menyimpan pesan kehidupan, pendidikan karakter, filosofi, dan kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi.

Pemilihan tokoh Srikandi dalam lakon tersebut juga dinilai relevan dengan semangat pemberdayaan perempuan. Srikandi menggambarkan sosok yang berani, teguh, cakap, dan memiliki semangat untuk berkarya serta berprestasi.

“Semangat Srikandi menjadi pesan bahwa perempuan memiliki ruang untuk berkarya, berprestasi, memimpin, sekaligus turut menjaga dan mengembangkan kebudayaan,” jelasnya.

Lebih jauh, Kang Suyat berharap Festival Literasi dan Hari Kunjung Perpustakaan tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan. Festival tersebut diharapkan menjadi pemantik agar budaya membaca dan aktivitas literasi semakin hidup di tengah masyarakat.

Gerakan literasi, kata dia, harus hadir lebih luas, tidak hanya di perpustakaan. Sekolah, desa, keluarga, komunitas, dan ruang publik diharapkan menjadi bagian dari ekosistem literasi di Magetan.

Penyerahan gunungan sebagai tanda dimulainya pagelaran wayang pun menjadi simbol dimulainya gerakan tersebut. Literasi diharapkan bergerak dari ruang-ruang perpustakaan menuju kehidupan sehari-hari masyarakat.

Dengan memadukan literasi dan budaya, Pemkab Magetan mendorong lahirnya generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga berkarakter, kreatif, mencintai budaya, serta mampu menjadikan pengetahuan sebagai kekuatan untuk membangun daerah. (Totok Swa)

 

*sumber: prokopimkabmagetan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *