Banjir Besar Lumpuhkan Langkahan, BNPB Kerahkan Alat Berat Dan 200 Personel TNI

TROL, Panton Labu — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan delapan unit alat berat serta melibatkan lebih dari 200 personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk mempercepat pembersihan material banjir berupa lumpur dan kayu gelondongan di kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara. Langkah ini dilakukan menyusul banjir besar yang melanda wilayah tersebut dan menyebabkan lumpuhnya aktivitas warga.

Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB, Mayjen TNI Budi Irawan, turun langsung meninjau posko pengungsian di Langkahan, Sabtu, (20/12). Ia memastikan penyaluran bantuan logistik berjalan tepat sasaran serta tenda-tenda darurat dari pemerintah pusat terpasang dan dimanfaatkan oleh warga terdampak.

“Tenda darurat sudah kami kirim dan pengiriman akan terus dilakukan. Pengungsi harus mendapatkan tenda dengan standar yang layak. Jangan disimpan di satu tempat. Tenda yang ada di posko maupun yang baru datang harus segera disalurkan karena masyarakat sedang membutuhkan,” ujar Budi Irawan usai meninjau lokasi.

Selain tenda pengungsian dan tenda keluarga, BNPB juga mengirimkan 50 unit mesin chainsaw, genset, serta lima unit dump truk untuk mengangkut material sisa banjir. Alat-alat tersebut difokuskan untuk membersihkan lumpur dan kayu-kayu gelondongan yang menutup akses jalan dan fasilitas umum.

Tenaga Ahli BNPB Pusat, Brigjen TNI Asep Dedi Darmadi, mengatakan penanganan pasca banjir di Langkahan dilakukan secara terpadu bersama pemerintah daerah dan aparat desa. BNPB telah berkoordinasi dengan para keuchik untuk mendata dan memusatkan lokasi pengungsian agar penyaluran bantuan lebih efektif.

“Kami mendukung tenda keluarga dan tenda pengungsian agar disatukan dalam satu area. Untuk pembersihan sarana umum, TNI AD akan diperbantukan sebanyak 200 personel dari Yonzipur 5. Sementara yang sudah bekerja di Langkahan saat ini ada 50 prajurit dari Batalyon Infanteri 4 dan Arhanud,” kata Asep.

Menurut Asep, akses jalan di kecamatan Langkahan kini mulai terbuka seiring masuknya alat berat ke wilayah terdampak. Kendati demikian, proses pemindahan dan pengangkutan kayu gelondongan masih menjadi kendala utama di lapangan.

“Kayu-kayu gelondongan ini cukup sulit dipindahkan. Namun ke depan akan dimanfaatkan oleh pemerintah daerah untuk pembangunan hunian sementara bagi korban banjir, setelah berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan. Hal ini sudah kami sampaikan ke masing-masing kabupaten,” ujarnya.

Menanggapi isu logistik yang disebut-sebut belum diterima sebagian warga, Asep menegaskan seluruh bantuan telah didistribusikan melalui jalur resmi. Penyaluran dilakukan dari pemerintah kabupaten ke camat, lalu diteruskan ke kepala desa masing-masing.

“Setiap penyaluran dibuktikan dengan tanda tangan dan stempel camat atau keuchik. Semua bantuan tercatat dengan jelas, baik keluar maupun masuk,” katanya.

Asep juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi. Ia menegaskan bantuan logistik tetap disalurkan kepada warga terdampak banjir.

“Jika sampai saat ini ada masyarakat yang belum menerima bantuan, segera laporkan ke petugas BNPB yang ditempatkan di masing-masing daerah. Kami terbuka untuk menerima laporan,” pungkasnya. ( yusrizal )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *