For aceHTrend
TROL,Singkil – Nasi Tue merupakan salah satu kuliner tradisional di Aceh Singkil yang tak kalah enak, lezat, dan gurih.
Nasi tue ini, sudah sangat familiar bagi warga Aceh Singkil. Tua muda, pria wanita, pasti mengenal penganan pulut berkuah ini.
Sebab, nasi tue kerap dihidangkan dalam acara-acara ritual adat istiadat, seperti acara tunangan, dan prosesi pesta perkawinan.
Bahkan, menu nasi tue, acap pula disajikan pada malam ke tiga orang bersedekah kaji di kediaman orang meninggal.
Tak ketinggalan, nasi tue lazim pula dihidangkan pada acara pindah dan menduduki rumah baru, saat tepung tawar (peusijuek) mobil atau sepeda motor. Atau pada acara keramaian lainnya.
Namun nasi tue ini, tidak pernah tersedia dan dijual di warung-warung. Kalau pun ada, hanya di warung tertentu saja.
Bagi penyuka pulut, nasi tue pasti selalu menjadi idamannya. Kurang Afdhal dan wah, kalau sesuatu acara keramaian, ngumpul ‘dusanak’, tidak membuat dan menyuguhkan nasi tue.
Nasi tue berasal dari dua kata, yakni nasi dan tue. Nasi adalah beras pulut atau beras ketan sebagai bahan dasar pembuatan makanan tersebut.
Sedangkan kata tue, merupakan kosa kata yang berarti tuai, yaitu sebuah alat memanen padi.
Jadi, warga mengartikan nasi tue, padi jenis pulut yang baru dituai. Lalu diproses dan dimasak, dijadikan penganan “kenduri” sebagai simbol rasa syukur pada Allah Swt karena padi telah panen.
Nasi tue berbahan beras pulut, santan, gula merah, gula pasir, garam dan daun pandan.
Nasi tue dimakan berbarengan dengan kuah, terlebih dahulu harus pula dibikin kuahnya. Untuk membuat kuah, siapkan kelapa tua, kukur dan peras untuk mendapatkan santan yang diberi sedikit gula dan garam.
Nasi tue ini, merupakan makanan khas pesisir Aceh Singkil yang mengandung filosofi dan nilai budaya yang dalam. Terutama berkaitan dengan rasa syukur, ungkapan terima kasih, penggalangan persatuan, dan doa.(*)
*acehtrend











