Opini  

Buatan VOC Jembatan Cincin Lawas Terlantar

TROL,-  Rangkaian besi-besi tua membentang melintasi aliran sungai Bengawan Solo sekaligus pembatas kabupaten Tuban dan Lamongan di Jawa Timur. Enam pilar baja menopang struktur yang dulu menjadi nadi peradaban, kini menua dalam diam.

Jembatan Cincin, peninggalan kolonial Belanda berusia lebih dari satu abad itu, perlahan larut dalam kabut waktu. Dilupakan dan menyimpan kisah-kisah yang tak pernah selesai diceritakan. Namun jembatan bersejarah ini, kini hanya menjadi sebuah cerita mistis.

Jembatan tersebut dibangun pada tahun 1919 oleh perusahaan kereta api Hindia Belanda Netherlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Jembatan Cincim pernah menjadi bagian vital jalur Babat–Tuban. Jembatan ini merupakan strategis bagi pergerakan manusia dan logistik kolonial.

“Jembatan ini dirancang sebagai jembatan kelas A. Mampu menahan beban kereta api berat,” kata Navis Abdul Rouf, sejarawan asal Lamongan.

Menurutnya, jembatan ini memiliki panjang sekitar 200 meter dan lebar 9 meter. Jembatan ini dibagi menjadi lima segmen. Masing-masing sepanjang 40 meter.

Jalur ini mulai beroperasi pada 1 Desember 1919. Namun sejak tahun 1980-an, roda besi berhenti bergulir. Rel yang dulu bergetar oleh dentuman lokomotif, kini ditimbun aspal. Menjadikan Jembatan Cincim sekadar lintasan kendaraan roda dua yang bergetar di atas papan kayu lapuk.

Di siang hari, jembatan ini sekilas tampak biasa. Namun saat malam merangkak, aura berbeda mulai terasa. Banyak warga percaya jembatan ini menyimpan energi negatif.

“Sekitar jam sembilan malam, suasana hawa terasa berubah. Ada warga yang mengaku sering melihat penampakan,” kata Achmad, warga setempat yang setiap hari menyeberangi jembatan ini dengan sepeda motornya.

Gladak kayu yang menutup rel tua itu tampak keropos. Menyisakan lubang menganga yang mengintip langsung ke dasar jurang sungai. Getaran motor menambah kesan seolah setiap pengendara sedang berjudi dengan maut.

Tak hanya menyimpan cerita transportasi, Jembatan Cincin juga menyimpan jejak perang. Saat Agresi Militer Belanda II (1948–1949), jembatan ini menjadi saksi bisu jatuhnya Babat ke tangan pasukan Mariniers Brigade (Marbrig) Belanda tanpa perlawanan berarti. Ironisnya, sebelum itu, jembatan ini justru dihancurkan oleh pasukan Belanda sendiri.

“Pada masa perang Belanda–Jepang, jembatan ini dibom untuk mencegah pasukan Jepang menyeberangi Bengawan Solo,” ujar Navis.

Aksi itu juga diyakini sebagai cara Belanda memutus jalur evakuasi warga antara kawasan Cincim dan Sekalang. Banyak warga mengungsi ke daerah Banguran, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban.

Kini, jembatan itu tetap berdiri. Namun tak lagi menjadi nadi pergerakan atau penghubung strategis. Ia menjadi saksi bisu dari kejayaan, kehancuran, hingga kealpaan bangsa terhadap sejarahnya sendiri.

Warga dan pegiat sejarah berharap Jembatan Cincin mendapat perhatian pemerintah. Mereka ingin jembatan ini direvitalisasi. Tidak hanya untuk keselamatan pengguna jalan, tetapi juga sebagai bagian dari pelestarian sejarah.

“Jangan biarkan jembatan ini menjadi cerita mistis yang dihindari. Padahal nilai sejarahnya luar biasa,” ujar Navis.

Di banyak negara, infrastruktur tua seperti ini justru menjadi destinasi wisata budaya dan edukasi. Namun di sini, nasibnya hampir sepadan dengan barang rongsokan.

“Modernisasi kerap melupakan, bahwa kemajuan bukan hanya membangun yang baru, tetapi juga merawat yang lama—karena pada warisan seperti Jembatan Cincin inilah identitas sebuah bangsa terbentuk.” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *